Type something and hit enter

By On

Oleh: Syahdaka Musyfiq Abadaka

Aku adalah santri baru, tepatnya pada salah satu pesantren besar di Madura. Dibandingkan ratusan santri baru lainnya, aku tergolong diantara yang mudah dan paling cepat beradaptasi dengan lingkungan, entah di manapun itu. Terlebih lingkungan yang oleh banyak orang dikatakan sebagai “penjara suci”, terasa ada tantangan baru. Penjara menandakan suatu situasi dan kondisi yang selalu sulit, penuh perjuangan, dibatasi aturan dan segala tindak-tanduk senantiasa berdasarkan pada undang-undang yang harus ditaati. Sehingga semuanya ada aturan mainnya. Dan kebebasan itu, nyaris tidak ada. Adapun kata suci itu sendiri barangkali bisa diartikan sebagai suatu akibat alamiah sebuah penjara, yang bilamana penghuninya mampu berusaha hidup dan bersikeras untuk senantiasa bertahan atas segala rintangan dan berusaha bagaimana prinsip-prinsip dan norma-norma itu dapat senantiasa menjadi pijakan dan tolak ukur setiap amal perbuatannya itu, maka ia pasti dengan perlahan akan memasuki masa penyician diri. Penyucian diri di sini tentu saja yang dimasud adalah bahwa kelak para lulusan pesantren bisa benar-benar mampu mengemban amanah sebagai sang juru penyalamat bagi umat.

Bukan berarti aku adalah satu-satunya orang yang paling kerasan di pesantren ini, dari sekian ratusan santri baru lainnya. Aku hanya berusaha semaksimal mungkin menjalani segala sesuatu yang barangkali memang sudah seharusnya aku jalani sebagai manusia yang kelak bisa jadi akan lebih keramat dan lebih hebat dari pada Raja Bajak Laut dan Hokage.
 
Jujur saja, aku itu adalah pribadi yang cenderung tidak suka ambil pusing pada hal-hal yang justru oleh kebanyakan orang lain malah menjadi topik perbincangan sehari-hari. Anggaplah masalah carut-marut politik, kalau skala negara, atau masalah hukum yang tumpul ke atas dan justru semakin tajam membabi buta ke bawah. Dan untuk yang terakhir ini aku rasa terjadi dalam segala sektor. Bukan berarti hanya pada tatanan birokrasi. Di pesantren pun juga banyak sih. Serius. Tapi aku sendiri tidak pernah ambil pusing. Bahkan meski harus nampak di depan mata. Sebab, naluri manusia memang cenderung menghakimi orang lain jauh sebelum mengadili dirinya sendiri. Kalau tidak percaya coba saja lihat para aktivis pergerakan mahasiswa, meski tidak semuanya tapi selalau ada bahkan lumayan banyak sih yang selalu sok berlagak keren dan sok pahlawan saat tampil di suatu demo melawan para koruptor. Eh nggak taunya mereka itu pada munafik. Pahlawan kesiangan. Nyatanya mereka juga sama bejatnya dengan para koruptor yang selalu mereka krtitik habis-habisan. Memang benar bahwa diam, dalam banyak hal, mampu menyelamatkan dan pastinya selalu menenangkan.

Tapi semenjak aku di pesantren dan mulai terbiasa menjalani segala aktivitas dan rutinitas keagamaan yang dimulai sejak bangun tidur hingga tidur kembali, rasanya sukma ini mulai merasakan semacam pendakian spritual. Pelan namun pasti. Akibatnya rutinitas itu justru membuat aku semakin terbiasa untuk senantiasa tidak mempersoalkan banyak hal. Apalagi sesuatu yang pada akhirnya hanya menyita waktu dengan percuma dan sia-sia. Sehingga konsentrasiku lebih fokus hanya pada belajar, belajar dan belajar dengan semangat meningkatkan cita rasa spritual. Setidaknya ini adalah anggapanku. Ingat. Ini bukan sebuah idealisme.

Tapi kawan, andaikan kau tepat berada di posisiku, bisa jadi kau juga akan merasakan hal yang sama denganku. Yaitu terusik dengan sesuatu yang malah tidak ada satu prang pun yang menggubrisnya. Sandal. Ya, hanya sandal. Meski pada kenyataannya ia lebih dari pada sekedar hanya. Inilah satu-satunya momentum di mana aku merasa tidak nyaman dan terusik setiap kali aku melihatnya pada saat di mana tidak seharusnya aku lihat. Meski pada kenyataannya tidak akan ada seorang pun santri yang tidak memakai dan memilikinya. Sebab ia selalu dibutuhkan setiap saat, dalam berbagai aktivitas. Hanya saja, justru akan nampak sangat aneh mana kala kita melihat sesuatu yang tidak wajar. Anggap saja keanehan itu kita rasakan dalam batas-batas yang tidak etis. Karena bagaimanapun, sandal itu adalah salah satu hal yang paling melekat pada seorang santri. Sedangkan para kaum santri dalam melaksanakan segala macam aktivitas dan kewajibannya selalu atas dasar kebersamaan. Lalu bagaiman jika kemudian ada beberapa santri yang malah keluar dari barisan shaff? Tentu saja, sekali lagi, yang nampak hanayalah keganjilan.

Cobalah kawan, jika kau punya waktu dan kesempatan, datanglah ke pondokku. Biar semuanya tampak jelas. Karena aku tidak ahli dalam bercerita. Sedangkan masalah sandal seperti yang telah aku sampaikan barangkali tidak akan pernah bisa terwakili oleh cerita. Sebab, sandal yang kumaksud bisa dikatakan mengandung banyak misteri. Entah aku sendiri, sebagai santri baru belum menemukan seseorang yang berusaha untuk mencoba menyingkap tabir misteri ini. Aku sendiri tidak habis pikir entah kenapa. Apa karena mereka tidak punya cukup keberanian, atau barangkali mereka beranggapan bahwa sandal yang kumaksud sama sekali bukanlah masalah apa-apa. Sehingga mereka tidak ingin waktu berharga mereka terbuang sia-sia hanya karena masalah sandal. Atau jangan-jangan, entah kenapa tiba-tiba aku menjadi khawatir bahwa diri ini mulai menggila? Oh tidak…

Agaknya pendapatku tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa sandal ini menyimpan misteri. Sebab sejak partama kali aku menyandang status baru sebagai santri, sandal itu tidak pernah absen dari penglihatanku. Dalam setiap aktivitas, selalu saja aku melihatnya. Setiap kali aku berangkat ke Mushalla untuk shalat berjamaah lima waktu, selalu saja ada; sandal. Atau disetiap kali aku hendak mengaji kitab saban sore, tetap saja ia tidak pernah hilang dari pandanganku; sandal. Termasuik juga dalam berbagai aktivitas yang lainnya. Rasanya sandal itu tetap istiqamah pada tempatnya. Aneh. Tentu. Aku harap aku tidak sedang benar-benar dalam keadaan gila.

Hingga pada suatu jama’ah subuh, tepatnya pada hari Jum’at. Aku makmum masbuq akibat terlalu lama di WC umum pondok karena penyakit diare sudah sajak dua hari yang lalu aku derita. Dan cukup mengganggu segala aktivitasku di pondok. Semoga saja perut mules ini bukan karena ulah sandal keparat itu. Hah. Pada saat itu, saat di mana aku tergesa-gesa untuk mengejar ketertinggalanku yang sudah tinggal tahiyatul akhir, tanpa aku sadari seseorang keluar sambil menggosok-gosok kedua matanya. Sesaat ia menatap sandal yang ada tepat dihadapannya itu. Kali ini aku juga sama. Menatap. Tajam. Dengan amat sangat. Tapi tidak pada sandal itu. Melainkan pada majikannya. Iya. Aku benar-benar menatap pada majikan sandal itu. Entah dengan tatapan apa. Yang terbersit hanyalah satu; andaikan sandal itu juga bersama sandal-sandal yang lain di Mushalla, bukankah itu akan lebih terasa manusiawi ala santri?
Post a Comment
Click to comment