Type something and hit enter

By On


Orang-orang modern seperti sekarang, di tengah kebebasan yang terus didengungkan dan HAM dijadikan tolak ukur segala ekspektasi kekinian, maka tatanan sudah tak lagi menjadi pedoman. Kegelisahan sudah bukan lagi perjalanan batin menuju kebenaran. Kompleksitas tak lagi memiliki arti, ketimpangan sosial pecah tak lagi menjadi soal. Sebab manusia, sudah benar-benar "murtad" dari segala tatanan nilai, atau barangkali justru manusia seolah baru terlahir dari rahim kehidupan tanpa nilai. Manusia telah kerasukan iblis dan setan yang selalu menyesatkan. Manusia selalu bertahan. Tetapi nyatanya, tetap saja kesurupan. Manusia benar-benar telah dipenggal oleh obsesi kemajuan.

Seolah bukan lagi persoalan menghindari kematian dengan kematian. Prinsip bertahan hidup dengan menikam. Eskploitasi besar-besaran sudah sempurna menjadi perlombaan. Lihatlah, kawan! Hukum rimba sudah berpindah dari belantara hutan, menjadi ajang pementasan yang diperankan oleh para setan, lalu menghampakan nilai-nilai kemanusiaan. Adalah si kuat yang menang dan tentulah si lemah yang tumbang. Kalaupun masih mampu bertahan, barangkali itu karena keajaiban, atau karena Tuhan sedang berbaik hati memanjangkan tangan.

Masih belum puas manusia menciptakan garis takdirnya sendiri, mereka lalu berpacu dengan waktu. Seolah hendak menembus realitas tanpa batas, mereka bangkit dari puncak kegelisahan untuk melaksanakan segala kehendak untuk berkuasa, berkuasa pada realitas semesta jagat raya, berkuasa pada materi, berkuasa pada ruang dan waktu. Jika realitas tersebut telah mereka kuasai, barangkali sains dan segala kemajuan lainnya akan benar-benar dicampakkan. Sebab kegelisahan sepanjang sejarah kemanusian, telah terwujud dan menjadi kenyataan.

Namun kapan itu akan terjadi?

Ah, kita yakini saja, sebelum usia paripurna, atau semesta ini binasa, kiranya kita tak boleh putus asa.

Lihatlah, kawan! Masa depanmu begitu sangat suram. Bumi kita kian tertekan. Manusia terlalu banyak meraup keuntungan. Babak baru segala pertaruhan telah benar-benar dimulai. Turunlah ke lapangan atau jadilah penonton yang hanya mampu berdaulat dengan bertepuk tangan. Ah, benar. Masa depan kita akan lebih rumit dari segala kompleksitas persoalan. Ah, tidak. Masa depan bukan kita lagi yang akan memainkan peran penting. Kita hanya menjadi penentu saja. Ah, sombong sekali kedengarannya. Seolah ramalan masa depan sedang terkapar tak berdaya, lalu kita datang dengan gaya pecundang yang penuh tipu daya, sambil lalu berharap banyak padanya, bahwa masa depan sesudah kita akan menjadi masa depan penuh gairah keingintahuan, melebihi segala keinginan untuk menerobos tabir-tabir Tuhan. Tujuan hidup sudah berdasarkan kalkulasi logis dan pragmatis. Lihatlah yang kemudian menjadi Dewa adalah segala keajaiban saintis.

Ingat, kita telah membiarkan hati tak berdaya hingga kita buta diri. Hati adalah tolak ukur segala semesta pada diri. Hati adalah cermin bagi serpihan-serpihan perenungan sejati. Hati adalah kekuatan. Hati adalah kebaikan. Hati adalah pancaran. Hati adalah dunia paling bijaksana. Hati adalah cinta. Hati adalah tempat berlabuh dan berteduh. Hati adalah kehidupan.


Ketika kita sadar, masa depan kita terasa pudar...
Post a Comment
Click to comment