Type something and hit enter

By On



Karya: Nizar Qabbani
Judul Asli: Asaluka Al-Rahila
Dari Buku Puisi: Qashaid Mutawahhisyah
Diterjemahkan oleh: Musyfiqur Rahman


Mari kita berpisah sementara
Demi kebaikan cinta kita
Juga demi kebaikan diri kita
Mari kita berpisah sementara
Kuinginkan dirimu semakin mencurahkan rasa cinta
Kuinginkan dirimu membenciku sementara
Dengan kenyataan yang ada pada diri kita
Yaitu kenangan/ingatan tentang seorang perempuan berharga pada diri kita
Dengan kenyataan cinta yang setia
Tetap/senantiasa terukir pada kedua mulut kita
Senantiasa terpahat pada tangan kita
Dengan kepastian surat-surat yang kau tulis, lalu kau alamatkan kepadaku
Wajahmu sepeti bunga, tertanam dalam jiwaku
Sedangkan sisa cintamu masih bergelantungan di rambut dan jari-jariku
Dengan kenyataan sebuah kenangan
Beserta indahnya kepedihan dan senyuman kita
Cinta yang esok akan terasa lebih berat dari pada kata-kata kita
Lebih berat dari pada bibir kita
Dengan kemestian kisah cinta yang paling indah
Aku minta kau pergi

Mari kita berpisah agar saling bercinta
Karena burung pada setiap pergantian musim
Pergi meninggalkan bukit
Lalu matahari, oh kekasihku
Akan jauh lebih indah saat mulai beranjak pergi
Jadilah kau dalam hidupku keraguan dan kepedihan
Sekali-kali jadilah kau legenda
Sekali-kali jadilah kau fatamorgana
Dan lain kali, jadilah kau dalam mulutku pertanyaan
Yang tak tahu akan jawaban
Demi cinta yang setia
Yang mendiami hati dan bulu mata kita
Agar selamanya aku tampak cantik
Akan kau menjadi lebih dekat
Aku minta kau pergi

Mari kita berpisah, meski kita dirundung rasa rindu
Mari kita berpisah, meski kita tak kuasa menahan iba dan cinta
Kasihku, melalui air mata
Kuingin kau melihatku
Melaui api dan asap
Kuingin kau melihatku
Mari kita biarkan diri kita membara, mari kita menangis kasihku
Kita sungguh telah lupa sejak lama
Kenikmatan tangisan
Mari kita berpisah
Agar cinta kita tak menjadi hal biasa
Agar rindu kita tak menjadi terak
Agar buku dalam pot tidak melayu

Tenangkan batinku oh pangeran kecilku
Cintamu tak pernah lekang, sepenuh mata dan jiwa
Aku masih menjadi bagian utuh dari dari kebesaran cintaku
Tak henti kuimpikan dirimu hanya untukku
Oh kesatriaku, oh pangeranku
Namun aku... Namun aku...
Khawatir pada kegelisahanku
Khawatir pada perasaanku
Khawatir kita jemu dalam rindu
Khawatir saat kita bertemu
Khawatir saat kita melepaskan pelukan
Atas nama cinta yang setia
Bagai musim semi, bunga-bunga bermekaran dalam hati kita
Seperti matahari, menyinari bulu mata kita
Atas nama kisah cinta terindah pada zaman kita
Aku minta kau pergi
Hingga cinta kita indah kembali
Hingga usianya tak berhenti

Aku minta kau pergi
Post a Comment
Click to comment