Type something and hit enter

By On
inspirasishalihah.blogspot.com

Semua orang sepaham bahwa hidup di pesantren adalah jalan terbaik untuk menjadi pribadi yang mandiri. Betapa tidak, segala aktivitas yang semula di rumah banyak dilakukan oleh orang tua, maka di pondok, semuanya serba dilakukan sendiri dan berlangsung setiap hari.

Sebagai orang yang cukup lama di pesantren, saya banyak mengalami masa-masa indah sekaligus susah. Masa-masa senang karena para santri hidup dengan penuh kesederhanaan dan kebersamaan. Sedangkan masa-masa paling sulit ketika baju-baju kian menggunung di bagian pojok kamar, atau menjadi buntalan yang berfungsi serbagai bantal alternatif. Hingga terkadang aromanya membuat saya sulit tidur.

Masa-masa berat santri di semua pesantren tanah air saya kira memang tidak sama. Tetapi dalam konteks mencuci pakaian kotor, nyaris tidak ada beda. Entah mengapa setiap kali tabungan baju kotor kian bertambah, beban di pundak juga semakin memberat. Tak heran terkadang ada santri yang saat persediaan baju di lemarinya sudah habis, terpaksa dengan agak berat hati mengambil kembali tumpukan bajunya di pojok kamar.

Hanya saja, drama itu tidak berlangusng lama…
Beberapa tahun terakhir kisah-kisah unik santri seputar mencuci pakaian jarang sekali terdengar. Bukan karena kisahnya sudah habis atau hatam. Tetapi karena alur ceritanya sudah berganti dari bak mandi ke jasa laundry. Pelan-pelan banyak santri yang mulai “hijrah” meninggalkan tradisi lama lalu berbondong-bondong pergi ke jasa laundry. Sehingga santri yang tetap teguh dengan mencuci pakaian sendiri bisa dibilang santri yang sakti, imannya cukup kuat dan bisa jadi karena ekonomi sulit atau karena dia adalah santri yang tergolong waswas, selalu dihantui perasaan takut kalau pakaiaannya dilaundry tidak bakalan suci.

Dengan maraknya jasa laundry yang mulai masuk ke pesantren, sedikit banyak turut mengubah gaya hidup santri dari terbiasa melakukan aktivitas secara mandiri menjadi pribadi yang mulai manja dan tak mau bersusah payah. Akibat gaya hidup yang mulai berubah, pola pikir mereka ikut berubah. Bukannya yang berubah hanya dalam perkara mencuci pakaian?

Dalam tradisi pesantren, setiap proses untuk menapaki nilai-nilai spritualitas ke jenjang yang lebih tinggi tidak ada istilah “hanya”. Karena setiap proses—sekecil apapun itu—tetaplah menjadi sebuah perjuangan dan setiap perjuangan pasti bernilai ibadah di hadapan Allah. Perkara laundry memang seperti tidak punya hubungan langsung dengan perkembangan keilmuan santri, tetapi ia berhubungan langsung dengan spirit dalam pembentukan mental dan daya tahan juang serta tidak mudah menyerah.

Bisa dibayangkan jika seorang santri nyaris tidak punya gairah untuk mengurus hal-hal yang masih bisa dilakukan secara mandiri, apalagi hanya mencuci pakaiannya sendiri? Barangkali santri zaman now harus banyak membuka lembaran kisah-kisah santri zaman old yang penuh perjuangan dan semangat pengabdian. Berjuang untuk meraih kesuksesan dan keberkahan ilmu serta mengabdi kepada para guru dan kiai agar memperoleh rida Tuhan.

Santri zaman now memang perlu belajar memahami lebih jauh makna terdalam menyuci pakaian sendiri. Jika ia sudah memahami filosofinya, jangankan pakaian sendiri, pakaian guru dan kiai sekalipun justru akan menjadi motivasi tersendiri. Karena dari sanalah akan mengalir keberkahan ilmu dan kebermaknaan hidup. Memang tak ada yang salah dengan maraknya jasa laundry hingga tumbuh subur di lingkungan pesantren. Justru yang salah jika karena itu gaya hidup santri berubah sehingga lambat laun juga akan mengubah pola pikirnya. Pola pikir santri itu abadi; sederhana dan rendah hati. Wallahua’lam.

© Musyfiqur Rahman
Post a Comment
Click to comment