-->

Type something and hit enter

By On


Oleh: Musyfiqur Rahman, pembaca manga One Piece

Untuk saat ini saya tidak lagi melihat poligami sebagai wujud keserakahan seksual atau brutalitas biologis semata, seperti yang selama ini cenderung diarahkan kepada mereka, para pelaku dan pegiat kampanye poligami di berbagai lini massa media sosial. Mungkin saja dorongan-dorongan seksual turut berpengaruh, mungkin juga dalam konteks tertentu cukup dominan, tapi saya rasa tidak selalu itu tujuan utamanya.

Pertama, saya ingin membangun asumsi bahwa "mereka" yang cenderung doyan berpoligami rata-rata hidup dalam sistem sosial-religius yang sangat hierarkis, jurang pemisah antara kalangan awamnya dan kalangan pemuka agamanya sangat jomplang, di kota-kota metropolitan, misalnya. Sehingga kalangan pemuka agamanya mudah mengambil keuntungan dengan terus memproduksi doktrin-doktrin keagamaan bahwa poligami adalah sunnah Nabi, istri yang rela dipoligami akan dipayungkan emas kelak di surga dan seterusnya.

Saya harus mengakui secara jujur bahwa sejauh ini, mereka cukup berhasil. Dan keberhasilan mereka yang paling nyata adalah ketika kalangan-kalangan "akhawat" mulai marak muncul ke permukaan yang tak hanya untuk mengkampanyekan poligami, tetapi juga menawarkan diri untuk dipoligami secara suka rela, terutama oleh para pria dalam lingkaran mereka sendiri yang biasanya disebut "ikhwan".

Kedua, sebelum lebih jauh, saya ingin mengajak Anda berpetualang sebentar ke New World di dunia One Piece. Mari sejenak kita berkenalan (bagi yang belum kenal) dan mengingat kembali (bagi yang sudah kenal) salah satu karakter terkuat di OP, yaitu Charlotte Linlin atau yang lebih dikenal dengan Big Mom, satu-satunya Yonko (kaisar bajak laut) perempuan. Dia adalah kapten bajak laut Big Mom yang struktur dan infrastruktur keanggotaannya dibangun dan diperkuat oleh Keluarga Charlotte, yang tak lain merupakan anak-anak Big Mom sendiri. Total keseluruhan anak-anak Big Mom berjumlah 85, dengan rincian 46 laki-laki dan 39 perempua, termasuk Charlotte Lola yang menjadi eksil akibat menolak perjodohan dengan pasangan pilihan Big Mom.

Nah, dari sini Anda mungkin mulai bertanya, dari manakah anak-anak Big Mom berasal hingga bisa sebanyak itu? Apakah karena alat reproduksinya hebat? Mengapa Big Mom tidak taat pada program Keluarga Berencana dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), yang jargonnya berbunyi "Dua Anak Cukup"?

Jawabannya, Big Mom tidak memproduksi anak-anaknya dengan satu suami saja. Ia berpoliandri, bukan dengan dua atau tiga suami, tapi dengan 43 suami! Bayangkan, 43 suami, dari berbagai latar belakang ras yang berbeda-beda. Jadi semua anak-anak Big Mom merupakan hasil dari hubungannya dengan 43 suaminya tersebut. Dan parahnya, tak ada satupun dari 43 suaminya yang mampu mengalahkan Big Mom. Mereka adalah suami-suami yang takut istri, dan semuanya hanya menjadi sasaran eksploitasi, semata untuk memproduksi.

Apakah Big Mom berpoliandri untuk memenuhi hasrat seksualnya? Tentu saja tidak. Ia melakukan itu semua karena ingin membangun aliansi paling kuat sehingga ia mampu membentuk armada pasukan yang tangguh di lautan. Dengan demikian peluang untuk menjadi penguasa lautan semakin terbuka lebar untuknya, karena nyaris semua ras di dunia, sudah ia kuasai. Bisa dibilang, pernikahan, bagi Big Mom, tak lebih dari peristiwa politik saja. 

Sisi kejam dan brutal Big Mom untuk mewujudkan ambisi politiknya dengan berpoliandri telah dikonfirmasi oleh Oda dalam SBS Volume 90 sebagaimana berikut:

"Q: Halo!! Oda-senseiii!! Big Mom punya banyak mantan suami, kan? Jadi bagaimana tepatnya para suami ini dipilih?? Apa dia sering kencan buta atau apalah!? -P.N. Big Mona

Oda: Dia seorang bajak laut. Dia mencuri mereka. Dia punya anak dengan mereka dan membuangnya!! Satu-satunya tujuannya adalah memiliki sebanyak mungkin anak dari sebanyak mungkin ras. Wanita yang benar-benar menakutkan."

Cukup mengerikan, bukan?

Big Mom benar-benar seorang bajak laut sejati, bajak laut dalam pengertian yang sebenernya. Menjarah harta dan mengekspansi wilayah-wilayah strategis. Dan yang paling wadidau, ya tentu menjarah para lelaki yang secara paksa ia jadikan suami-suaminya.

Tentu sampai di sini, saya berharap Anda mengerti apa yang sebenernya ingin saya katakan.

Tren poligami tidak bisa kita pahami secara sederhana. Kalaupun mungkin kita selama ini cenderung  melihat poligami hanya sebagai cara pemenuhan kebutuhan biologis, tidak sepenuhnya salah sih. Tapi bagaimana kalau ternyata di balik tren dan propaganda poligami ada sebuah gerakan TSM (terstruktur, sistematis dan masif) yang bertujuan untuk mewujudkan kuasa demografis, yang ujung-ujungnya untuk mewujudkan pemenuhan ideologis pada 10-20 tahun mendatang? Tentu tak ada yang tahu. Tapi bisa jadi hal ini sedang terjadi, tanpa sepenuhnya kita sadari.

Mungkin untuk saat ini Indonesia masih "dikuasai" oleh kalangan tradisionalis yang menjunjung tinggi sikap-sikap moderasi Islam yang salah satu isu utamanya adalah membaca ulang teks-teks keagamaan seputar perempuan dan bagaimana kini, seharusnya perempuan itu didudukkan. Kecenderungan patriarki yang sudah cukup lama mengisi kesadaran banyak orang, kini juga mulai disingkirkan dengan berbagai gerakan-gerakan emansipasi.

Belum lagi kader-kader muda progresif dari dua ormas terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah turut hadir mewarnai dinamika publik, terutama seputar hak-hak perempuan. Mereka dengan lantang banyak menyuarakan kesetaraan gender dan mengutuk keras diskriminasi dan pelecehan terhadap perempuan, temasuk juga poligami menjadi salah satu perhatian utama meraka.

Situasi ini membuat "mereka" yang berada dalam kutub lain, seolah memiliki panggungnya sendiri. Kehadiran mereka bak antitesis bagi kalangan tradisionalis. Sehingga dengan sangat mudah mereka bisa melemparkan tuduhan "liberal", "anti sunnah" dan label-label picisan semacamnya. Intinya mereka ingin menegaskan bahwa hanya merekalah yang paling syar'i, paling taat melaksanakan sunnah Nabi, terutama sunnah berpoligami. Nah!

Mungkin untuk saat ini, kita bisa saja mengatakan bahwa mereka berada dalam pihak yang kalah, baik secara sosial, budaya maupun politik. Tapi kita tidak tidak pernah tahu bagaimana 30 hingga 50 tahun mendatang, ketika kelompok-kelompok yang berkepentingan di negara ini, saling berebut penguasaan demografi, dan cara untuk mewujudkan itu semua cukup dengan berpoligami, sesuatu yang menggiurkan dan begitu diminati.

Sederhananya begini, jika ada 10.000 pria melakukan poligami setidaknya dengan dua istri saja, dan masing-masing dari kedua istri tersebut dikaruniai 2 anak, lalu separuh dari anak-anak tersebut kelak juga berpoligami dan anak-anak dari anak-anak mereka ternyata nanti juga berpoligami, maka tak perlu waktu lama, 2-3 dekade saja mereka sudah makin kuat membangun jejaring dan infrastruktur mereka. Itu simulasinya jika berpoligami dengan 2 orang istri, lalu bagaimana jika dengan 3-4 istri sekaligus? Saya hanya bisa menjawab, ternyata persoalan selangkangan juga bisa bikin ribet juga ya.

Eh tapi tunggu dulu, sebelum saya dituduh anti sunnah dan semacamnya, saya ingin mempertegas dulu posisi saya di sini. Pertama, posisi saya di sini bukan menolak poligami dan tidak mau masuk dalam perdebatan apakah poligami itu sunnah Nabi atau tidak. Saya tidak dalam kapasitas untuk membahas ini secara rinci dan detail. Tapi okelah kalau memang poligami itu sunnah Nabi yang perlu diamalkan, tapi kenapa bukan sunnah yang lain seperti waktu kaki Nabi membengkak karena tak henti salat malam? Bukankah perkara poligami dan membengkaknya kaki karena salat malam sama beratnya? Bukankah dalam poligami harus mendahulukan sikap "mampu dari pada sekedar mau" yang sama beratnya dengan salat malam hingga kaki membengkak?

Kedua, saya ingin menegaskan bahwa poligami hanyalah bagian dari fase perjalanan hidup Nabi. Artinya untuk memahami konteks perjalanan hidup Nabi dengan benar, perlu memahami fase yang lain. Sama halnya dengan proses pewahyuan Al-Qur'an, ada fase Makkah dan ada fase Madinah yang keduanya harus dipahami secara proporsional.

Jauh sebelum Nabi hidup berpoligami, beliau lebih dulu hidup secara monogami. Istri Nabi satu-satunya yang tidak pernah merasakan pahitnya cinta dimadu hanyalah Khadijah. Sejak awal menikah hingga wafat, Khadijah menjadi satu-satunya wanita yang bertahta di hati Nabi. Bahkan kematian Khadijah dalam sejarah Islam dikenal dengan 'amul huzni (tahun berduka cita). Ini menandakan bahwa Nabi begitu cinta dan setia kepada Khadijah. Bahkan untuk move on dari Khadijah, Nabi butuh satu tahun menyendiri baru setelah itu dimulailah fase poligami, yaitu saat Nabi menikahi Aisyah dan tak lama kemudian, beliau juga menikahi Saudah dan seterusnya. Kalau mau dibandingkan antara fase monogami dan fase poligami Nabi, masih lebih lama fase monogami, yaitu 25 tahun sementara fase poligami hanya 12 tahun. Sampai di sini ente-ente mengerti kan?

Nah, pertanyaannya mengapa ente-ente begitu ngaceng untuk berpoligami dengan hanya melihat Nabi sebagai sosok yang berpoligami lalu melupakan bahwa beliau juga pernah monogami?

Maka seperti yang saya katakan di awal bahwa untuk saat ini, saya tidak lagi melihat poligami sebagai wujud keserakahan seksual atau brutalitas biologis semata, seperti yang selama ini cenderung diarahkan kepada mereka, para pelaku dan pegiat kampanye poligami di berbagai lini massa media sosial. Mungkin saja dorongan-dorongan seksual turut berpengaruh, mungkin juga dalam konteks tertentu cukup dominan, tapi saya rasa tidak selalu itu tujuan utamanya. Karena bisa jadi tujuannya adalah untuk merebut demografi dan bila itu terjadi, tentu mudah bagi mereka untuk menyebarkan paham dan ideologi mereka.

Wahai ciwi-ciwi cantik sebangsa dan setanah air. Jika kalian kelak diminta kerelaan oleh suami-suami kalian untuk dimadu, bilang saja pada mereka, "Mas, aku cuma pengen jadi Khadijah, yang menjadi satu-satunya wanita yang bertahta di hati Mas hingga ajal menjemputku, kecuali kalau ajal lebih dulu menjemput Mas, beda lagi donk ceritanya". 

Anda boleh menganggap serius semua ocehan saya dan boleh juga menganggapnya biasa-biasa saja.

Udah sekian dulu ya, mari angkat jangkarnya, kita berlayar lagi, minna-san.

Wallahua'lam...
Post a Comment
Click to comment